MOHON SEBARKAN SEBELUM FB PADAM…!! Makanan-makanan Yang Mengandungi Pengawet Mayat, anda pasti akan muntah setelah membacanya..

Loading...

MOHON SEBARKAN SEBELUM FB PADAM…!! Makanan-makanan Yang Mengandungi Pengawet Mayat, anda pasti akan muntah setelah membacanya..

#Jemari Nunik Wiharti bergerak lincah memindahkan serbuk-serbuk tauhu putih dari cawan petri ke dalam tabung reaksi. Ke dalam tabung transparan itu pula dia berturut-turut memasukkan air sulingan, polipropilen cair, dan serbuk
pereaksi. Sepertiga tabung pereaksi terisi campuran tersebut.

Petugas pengujian Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM) DKI Jakarta itu menyumbat ujung tabung dengan penutup plastik berwarna hitam. Tabungreaksi diayunkan ke atas dan ke bawah menggunakan tangan dengan kekuatan penuh.

#Campuran berubah menjadi keruh. Setelah dua minit menggoyang tabung reaksi, cairan yang semula berwarna putih berubah menjadi ungu.

Positif formalin,” ujar Nunik kepada team Liputan6.com di laboratorium Balai Besar POM DKI Jakarta, Cilangkap.

Pekan lalu, Nunik ditugaskan menguji sampel tauhu yang dikumpulkan tean Liputan6.com dari empat pasar swalayan di Jakarta.

Pengujian dilakukan untuk menelusuri keberadaan zat kimia berbahaya tersebut pada makanan. Selain Nunik, pengujian sampel dilakukan pula oleh tiga rekannya. Tiga rakannya yang menguji sampel tauhu dari lokasi berbeza
tidak menemukan keberadaan formalin.

Penguji Balai Besar Pengujian Obat dan Makanan menunjukkan hasil tes formalinpada anggur yang didapatkan dari pasar modern di Jakarta.

Tauhu merupakan bahan mentah untuk pelbagai hidangan keluarga Indonesia. Makanan yang berasal dari kacang soya ini diproduksi di dalam negeri dan dijual di pasar-pasar, termasuk pasar swalayan dan pusat perbelanjaan.
Adapun anggur merupakan salah satu jenis buah yang dikonsumsi keluarga Indonesia. Buah berbentuk bundar ini sebagian besar didatangkan dari luar negeri.

Kepala Balai Besar POM Jakarta Dewi Prawitasari tidak terkejut atas temuan formalin pada makanan dan buah-buahan yang dijual di pasar modern. Menurut dia, formalin memang sering digunakan produsen dan distributor untuk mengawetkan makanan. Pengawetan menggunakan bahan berbahaya ini, katanya merupakan modus umum bagi pedagang yang ingin menekan kerugian. “Makanan yang diduga mengandung formalin bisa saja ditemukan di pasar modern atau swalayan,” ujar Dewi. Dia memastikan formalin juga masih ditemukan pada bahan makanan dan buah-buahan yang dijual di pasar tradisional.

Dia melanjutkan, pengujian yang dilakukan lembaganya menemukan tauhu sebagai jenis makanan yang paling sering mengandung formalin. Tauhu, katanya, merupakan jenis makanan yang cepat membusuk sehingga perlu ditambahi
pengawet buatan. Setelah tahu, Balai Besar POM Jakarta juga menemukan mi dan bakso sebagai makanan yang kerap diketahui mengandung formalin.

Tauhu berformalin sitaan Polda Metro Jaya. (Liputan6.com/Audrey Santoso)

Dokter forensik sekaligus pengajar dari Universitas Indonesia Djaja Surya Atmadja mengatakan formalin merupakan bahan kimia yang bersifat korosif. Organ tubuh yang terpapar zat ini akan cepat rusak sehingga tidak bisa
berfungsi normal. Konsumsi formalin dalam jangka panjang bakal memicu kelainan perkembangbiakan sel. Menurut dia, formalin diketahui bersifat karsinogenik. “Jika dikonsumsi dalam waktu panjang akan menyebabkan
kanser,” kata Djaja.

Dia mengatakan, banyak jenis kanser yang bisa dipicu formalin. Di antaranya kanser hidung, kulit, otak, dan usus. Adalah kanser usus yang disebutnya sebagai penyakit yang paling banyak diderita orang yang mengkonsumsi formalin.

Sampel liver manusia yang mengeras setelah terpapar zat pengawet formalin. Liver mengeras akibat reaksi penggumpalan protein oleh formalin. Djaja menunjukkan efek formalin terhadap organ dengan membawa sampel liver
manusia yang telah direndam formalin. Potongan hati seukuran jempol kaki orang dewasa itu berwarna hitam dan keras. Menurut dia, pengerasan itu terjadi karena formalin bereaksi dengan protein yang ada di dalamhati.

Reaksi tersebut, katanya, menyebabkan gumpalan protein yang kemudian mengeraskan organ. “Organ-organ yang terpapar formalin akan mengalami kejadian yang sama,” ujarnya. Menurut Djaja, ilmu kedokteran hingga
saat ini belum bisa membalikkan proses penggumpalan protein oleh formalin tersebut. Akibatnya, pengerasan organ tubuh akibat formalin bersifat permanen.

Tertata rapi dalam lemari pendingin, anggur yang dijajakan sebuah pasar swalayan ternama di kawasan Jakarta Selatan menarik perhatian. Kemasan plastik yang membalut buah anggur tersebut seperti menjamin kehigienisan buah impor tersebut.

Team Liputan6.com membeli sebungkus anggur tersebut. Pasar swalayan membanderol anggur seberat hampir 0,5 kilogram itu seharga Rp 70.000. Kasir swalayan membubuhkan label ‘fresh’ pada bungkus anggur untuk
sebagai jaminan kesegaran buah. Belakangan pengujian Balai Besar POM membuktikan anggur tersebut mengandung formalin.

Ilustrasi buah anggur di rak buah-buahan pasar swalayan. (Istimewa)

Pengetesan yang sama oleh Balai Besar POM Jakarta menunjukkan anggur yang diambil dari pasar swalayan lain tidak mengandung formalin. Tim Liputan6.com tidak menemukan perbedaan ketika membandingkan fisik dan bau dua sampel tersebut.

Kepala Balai Besar POM Jakarta Dewi Prawitasari mengatakan formalin pada anggur biasanya masuk ke dalam pori buah sehingga lebih susah untuk diperiksa tekstur dan baunya. Formalin pada pori buah inilah, katanya, yang sulit dibersihkan meski setiap pelanggan membilas anggur sebelum dimakan.

Dia membandingkannya dengan formalin pada tahu yang tersebar merata dalam seluruh adonan. Menurut dia, formalin pada tahu bisa dilacak dengan penciuman. Tahu berformalin biasanya memiliki bau kimia yang kuat. Sedangkan tahu yang bebas formalin mengeluarkan bau segar khas kedelai. Tahu berformalin juga mengalami perubahan tekstur menjadi lebih kenyal.

Anak-anak sekolah dasar mendengarkan penjelasan Badan POM mengenai bahaya formalin pada jajajan. (Liputan6.com/M. Khadafi)

Dokter
forensik sekaligus pengajar dari Universitas Indonesia Djaja Surya
Atmadja memberikan kiat yang sama untuk memeriksa kandungan formalin
pada tahu. Menurut dia, tekstur kenyal cenderung keras pada tahu bisa
menjadi indikator keberadaan formalin. Tahu yang tidak membusuk dan
berbau setelah dibiarkan lebih dari 6 jam pada suhu kamar juga
mengindikasikan adanya cemaran formalin.

Tim Liputan6.com
menguji tahu yang dijual di pasar tradisional menggunakan alat uji
seperti yang digunakan Balai Besar POM Jakarta. Sampel tahu yang
dikumpulkan dari tiga pasar tradisional di Jakarta Selatan menunjukkan
keberadaan formalin–ditunjukkan dengan perubahan warna sampel menjadi
ungu ketika dicampur cairan pengujian. Tahu berformalin itu bertekstur
keras dan berbau khas zat kimia.

Balai Besar POM Jakarta
rutin mengirimkan mobil laboratorium keliling ke sekolah-sekolah.
Pengujian lapangan di salah satu sekolah dasar di Jakarta Selatan
menunjukkan formalin juga masih beredar di jajanan untuk anak-anak.

#Deputi
Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan POM
Suratmono mengatakan terjadi penurunan temuan pencemaran makanan oleh
zat berbahaya seperti formalin. Menurut dia, tingkat pencemaran bahan
berbahaya secara nasional pada 2010 mencapai 45 persen. Badan POM
mengkategorikan makanan tercemar ini sebagai makanan tidak memenuhi
syarat. Tahun lalu, level pencemaran itu menurun menjadi 23 persen.
“Penyalahgunaan bahan berbahaya (seperti formalin) sekitar 4-6 persen,”
katanya ketika ditemui di Jakarta, Kamis, 18 Februari 2016.

Mi kuning basah termasuk jenis makanan yang paling sering bercampur formalin selain tahu dan bakso. (Liputan6.com/M. Khadafi)

Menurut
dia, penurunan temuan pencemaran formalin itu terjadi di seluruh
provinsi. Namun, dia menyebut DKI Jakarta masih menjadi daerah dengan
temuan tertinggi di Indonesia.

Badan POM, Suratmono
menjelaskan, menggalakkan program ‘pasar aman’ di seluruh Indonesia.
Program ini memantau 77 pasar yang dipilih sebagai pasar percontohan
yang bebas makanan tidak memenuhi syarat. Di Jakarta terdapat 5 pasar
percontohan ini.

#Badan
POM melakukan inspeksi mendadak jajanan sekolah mengandung formalin di
Jakarta, Senin (13/04/2015). (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Kepala
Balai Besar POM Jakarta Dewi Prawitasari membenarkan terjadinya
penurunan temuan makanan berformalin di lima pasar percontohan. Data
Balai Besar POM menunjukkan level makanan tidak memenuhi syarat mencapai
23,2 persen pada 2013. Angka ini menurun menjadi 14,8 persen pada 2015.

Ihwal
posisi DKI Jakarta sebagai pemuncak provinsi dengan tingkat pencemaran
formalin dan zat berbahaya, dia beralasan lantaran Balai Besar POM DKI
Jakarta paling sering melakukan pengujian ke pasar. Tingginya frekuensi
pengujian itu, katanya, menyebabkan lebih banyak temuan di lapangan.
“Setiap pekan kami mengirimkan laboratorium bergerak ke pasar-pasar,”
ujar Dewi.

Dari hasil penelitian datas sebaiknya kita harus
lebih hati – hati terhadap makanan yang tak asing lagi kita jumpai, dan
jangan lagi makan makanan yang dudah d teliti diatas ( di kutip dari
liputan 6 )

silahkan bagikan dan sebarkan …

Formalin
merupakan senyawa kimia yang terbentuk dari reaksi oksidasi metanol.
Salah satu sifat formalin adalah mematikan bakteri pembusuk. Karena itu
formalin banyak dipakai sebagai pembersih lantai atau zat pengawet
mayat.

#Selain tahu, pengujian juga dilakukan terhadap sampel
anggur impor yang juga dijajakan di pasar swalayan. Hasilnya, dua dari
empat sampel yang diambil dari pasar swalayan berbeda positif mengandung
formalin. Seorang teman Nunik mendadak cemas terhadap hasil pengujian
tersebut. “Padahal saya sering beli anggur di pasar swalayan ini,”
katanya dengan mimik wajah khawatir.

Loading...